Teologi Ekologi dan Kearifan Budaya Lokal: Integrasi Nilai Agama dan Adat dalam Menghadapi Krisis Iklim
DOI:
https://doi.org/10.63462/eb86d815Keywords:
Teologi ekologi, kearifan lokal, agama, adat, keberlanjutanAbstract
Krisis iklim dan kerusakan lingkungan global menunjukkan bahwa pendekatan teknokratis semata tidak lagi memadai dalam mengatasi persoalan ekologis. Artikel ini mengkaji integrasi antara teologi ekologi dan kearifan budaya lokal sebagai fondasi etika lingkungan yang relevan dalam konteks Indonesia. Melalui studi pustaka terhadap literatur agama, antropologi, dan lingkungan, penelitian ini menemukan bahwa Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha memiliki ajaran yang menekankan tanggung jawab moral manusia terhadap alam. Konsep seperti khalifah fil ardh, teologi penciptaan, Tri Hita Karana, dan pratītyasamutpāda menunjukkan bahwa pelestarian alam merupakan bagian dari spiritualitas dan nilai kemanusiaan. Temuan ini diperkuat oleh praktik adat seperti sasi di Maluku, subak di Bali, dan baro jampae di Sulawesi Selatan, yang membuktikan bahwa kearifan lokal telah berperan sebagai mekanisme ekologis berbasis nilai komunal dan spiritual. Integrasi ajaran agama dan adat memiliki implikasi besar bagi kebijakan publik, pendidikan lingkungan, dan perubahan perilaku masyarakat. Dengan demikian, sinergi antara agama dan budaya dapat menjadi model alternatif yang komprehensif dalam membangun kesadaran ekologis dan strategi keberlanjutan di era krisis iklim.
References
Aura, A. maskarita. (2024). Eksploitasi Anak Pengemis Lampu Merah UntukKebangkitan Ekonomi Studi Kasus Keluarga di Tanjung Saba Pitameh Nan Xx, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Social Integrity Journal, 1(2), 131-137. https://triedu.or.id/sointeg/index.php/about/article/view/36
Berkes, F. (2018). Sacred ecology (4th ed.). New York, NY, United States: Routledge
Capra, F. (2021). The Systems View of Life: A Unifying Vision. Cambridge University Press.
Conradie, E. M. (2011). Christianity and ecological theology. Stellenbosch, South Africa: Sun Press.
Creswell, J. W. (2016). Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Geertz, C. (1983). Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology. Basic Books.
Geertz, C. (1983). Local knowledge: Further essays in interpretive anthropology. New York, NY, United States: Basic Books.
Grim, J., & Tucker, M. E. (2014). Ecology and religion. Washington, DC, United States: Island Press.
Hasanuddin, H. (2019). Ekologi Adat dan Harmoni Lingkungan di Sulawesi Selatan. Makassar: UIN Alauddin Press.
Hitzhusen, G. E., & Tucker, M. E. (2013). Religion and ecology: The emergence of a new field. Journal for the Study of Religion, Nature and Culture, 7(1), 3–15. https://doi.org/10.1558/jsrnc.v7i1.3
IPCC. (2023). Sixth Assessment Report. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Iskandar, J. (2017). Etnobiologi dan keragaman budaya di Indonesia. Bandung, Indonesia: Umbara.
Katsir, I. (2018). Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Ummul Qura.
Kearney, M. (2008). The Wake of Imagination: Toward a Postmodern Culture. Routledge.
Keown, D. (2017). Buddhism and Ecology: The Interdependence of All Beings. London: Routledge.
Keraf, A. S. (2010). Etika lingkungan hidup. Jakarta, Indonesia: Kompas.
Keraf, A. S. (2014). Filsafat lingkungan hidup: Alam sebagai sebuah sistem kehidupan. Yogyakarta, Indonesia: Kanisius.
Lorenzen, S. (2020). “Subak as an Indigenous Ecological System in Bali.” Journal of Environmental Anthropology, 18(2), 35–49.
Matanari, D., Sihombing, R. H. A. ., Manalu, A. E., Adriani, N., Munthe, C. ., Arianto, T., & Saih, S. (2024). Nilai Luhur dan Problematika dalam Adat Sulang Silima Suku Pak-Pak Pegagan Marga Matanari di Desa Hutagugung Kabupaten Dairi. Social Integrity Journal, 1(2), 148-158. https://triedu.or.id/sointeg/index.php/about/article/view/53
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. California: Sage Publications.
Nasr, S. H. (2022). Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Civilization. New York: Harper One.
Northcott, M. S. (2013). A political theology of climate change. London, United Kingdom: SPCK.
Paus Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press.
Pitana, I. G. (2019). Tri Hita Karana dan Ekologi Bali. Udayana University Press.
Rahawarin, D. (2020). “Revitalisasi Sistem Sasi dalam Pengelolaan Lingkungan Berbasis Lokal.” Jurnal Antropologi Indonesia, 41(1), 77–94.
Rahmawati, N. (2020). Kearifan Lokal sebagai Strategi Konservasi Sosial-Ekologis di Indonesia. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(2), 145–160.
Santmire, H. P. (2000). Nature reborn: The ecological and cosmic promise of Christian theology. Minneapolis, MN, United States: Fortress Press.
Sivaraksa, S. (2002). The Wisdom of Sustainability: Buddhist Eco-Ethics. Parallax Press.
Sutawan, N. (2021). Tri Hita Karana dan Ekologi Hindu. Denpasar: Paramita.
Tilaar, H. A. R. (2022). Pendidikan Multikultural dan Ekologi Sosial. Jakarta: Gramedia.
Tucker, M. E., & Grim, J. (2017). Religion and ecology: A new field. New Haven, CT, United States: Yale University Press.
UNESCO. (2021). Indigenous Knowledge and Sustainable Policy Frameworks. Paris: UNESCO Publishing.
White, L. (1967). The Historical Roots of Our Ecologic Crisis. Science, 155(3767), 1203–1207.


