Narasi Keagamaan dalam Tradisi Lisan Nusantara dan Kontribusinya terhadap Etika Lingkungan
DOI:
https://doi.org/10.63462/x1t8s193Abstract
Krisis iklim global yang semakin kompleks menuntut pendekatan baru dalam memahami dan mengelola relasi manusia dengan lingkungan. Selama ini, upaya mitigasi lingkungan cenderung berfokus pada pendekatan teknokratis seperti regulasi, sains, dan teknologi, sementara dimensi kultural, spiritual, dan moral kurang mendapat perhatian. Artikel ini mengkaji integrasi teologi ekologi dan kearifan budaya lokal sebagai landasan pembentukan etika ekologis berbasis nilai keagamaan dan tradisi Nusantara. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan analisis kritis terhadap literatur keagamaan, antropologi, lingkungan, dan studi kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai ekologis dalam Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha memiliki kesesuaian dengan praktik adat seperti sasi, subak, dan hutan larangan, yang selama berabad-abad terbukti menjaga keseimbangan ekologis di tingkat komunitas. Selain itu, integrasi agama dan kearifan lokal terbukti efektif dalam pendidikan lingkungan, pembentukan perilaku ekologis, serta implementasi kebijakan berbasis masyarakat. Di era digital, revitalisasi narasi keagamaan dan tradisi lisan melalui media digital juga memperkuat penyebaran kesadaran ekologis lintas generasi. Dengan demikian, integrasi nilai agama dan adat tidak hanya menjadi alternatif, tetapi kerangka paradigmatik dalam membangun tata kelola ekologi yang holistik, berkeadilan, dan berkelanjutan.
References
Ahyar, M., & Alfitri. (2021). Islam dan ekologi: Transformasi nilai religius dalam gerakan lingkungan di Indonesia. UIN Press.
Aura, A. maskarita. (2024). Eksploitasi Anak Pengemis Lampu Merah UntukKebangkitan Ekonomi Studi Kasus Keluarga di Tanjung Saba Pitameh Nan Xx, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Social Integrity Journal, 1(2), 131-137. https://triedu.or.id/sointeg/index.php/about/article/view/36
Berkes, F. (2018). Sacred ecology (4th ed.). New York, NY, United States: Routledge.
Braun, V. & Clarke, V. (2022). Thematic Analysis: A Practical Guide. Sage.
Capra, F., & Luisi, P. L. (2021). The systems view of life: A unifying vision. Cambridge University Press.
Creswell, J. & Poth, C. (2018). Qualitative Inquiry & Research Design. Sage.
Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta, Indonesia: Pustaka Utama Grafiti.
Danandjaja, J. (2015). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti. (Edisi revisi).
Escobar, A. (2019). Designs for the pluriverse: Radical interdependence and the making of worlds. Duke University Press.
Finnegan, R. (2012). Oral literature in Africa. Cambridge, United Kingdom: Open Book Publishers.
Geertz, C. (2017). The interpretation of cultures. Basic Books. (Reprint edition masih digunakan dalam rujukan modern).
Grim, J., & Tucker, M. E. (2014). Ecology and religion. Washington, DC, United States: Island Press.
Hasanuddin, A. (2020). Tradisi lisan dan konservasi alam: Studi praktik pamali dalam masyarakat Sunda. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(2), 134–148. https://doi.org/10.7454/ai.v41i2.11202
Hidayat, R. (2019). Kosmologi Nusantara dan etika lingkungan: Studi terhadap tradisi lisan agraris. Jurnal Kebudayaan Nusantara, 5(1), 55–72.
IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis report. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Iskandar, J. (2017). Etnobiologi dan keragaman budaya di Indonesia. Bandung, Indonesia: Umbara.
Kimmerer, R. W. (2020). Braiding sweetgrass: Indigenous wisdom, scientific knowledge, and the teachings of plants. Milkweed Editions.
Latif, Y. (2022). Kosmologi Melayu dan peradaban ekologis. Jurnal Sejarah dan Filsafat Indonesia, 18(1), 22–41.
Lorenzen, S. (2020). Subak Bali as world heritage: Negotiating culture, ecology, and governance. Asian Journal of Heritage Studies, 12(3), 188–201.
Matanari, D., Sihombing, R. H. A. ., Manalu, A. E., Adriani, N., Munthe, C. ., Arianto, T., & Saih, S. (2024). Nilai Luhur dan Problematika dalam Adat Sulang Silima Suku Pak-Pak Pegagan Marga Matanari di Desa Hutagugung Kabupaten Dairi. Social Integrity Journal, 1(2), 148-158. https://triedu.or.id/sointeg/index.php/about/article/view/53
Northcott, M. S. (2013). A political theology of climate change. London, United Kingdom: SPCK.
Pitana, I. G. (2019). Tri Hita Karana and sustainable tourism: Balinese philosophical contribution to environmental ethics. Journal of Environmental Humanities of Asia, 7(2), 99–117.
Rahmawati, D. (2021). Kearifan lokal sebagai basis tata kelola ekologis: Studi pada sasi dan pamali sebagai pranata sosial lingkungan. Journal of Local Wisdom Studies, 6(4), 201–220.
Santmire, H. P. (2000). Nature reborn: The ecological and cosmic promise of Christian theology. Minneapolis, MN, United States: Fortress Press.
Schreier, M. (2021). Qualitative Content Analysis in Practice. Routledge.
Siregar, H., & Wibowo, A. (2020). Narasi lingkungan dalam sastra lisan Batak Toba. Jurnal Bahasa dan Budaya, 17(2), 112–129.
Tilaar, H. A. (2022). Pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal dan spiritualitas: Model pengembangan kesadaran ekologis di sekolah. Jurnal Pendidikan dan Humaniora, 30(1), 45–60.
Tucker, M. E., & Grim, J. (2017). Religion and ecology: A new field. New Haven, CT, United States: Yale University Press.
UNESCO. (2021). Culture and climate change framework: Indigenous knowledge and resilience. UNESCO Publishing.
Zed, M. (2019). Metode Penelitian


